Nilai UNBK Tahun 2019 / Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer SMP Negeri 203 Jakarta
Dibawah ini adalah Nilai UNBK Tahun 2019 / Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer SMP Negeri 203 Jakarta
Klik Gambar Untuk Perbesar
Nilai UNBK Tahun 2018 / Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer SMP Negeri 203 Jakarta
Halaman 1
Halaman 3
Halaman 4
Halaman 5
Halaman 6
Halaman 7
Halaman 8
SMP Terbuka, Solusi Pendidikan Alternatif dengan Ijazah Formal
Jakarta, Kemendikbud --- SMP Terbuka merupakan satu alternatif subsistem pendidikan formal yang menerapkan prinsip pembelajaran secara mandiri. Di SMP Terbuka, siswa belajar dengan bantuan seminimal mungkin dari guru atau orang lain dan menggunakan modul sebagai bahan ajar utama. SMP Terbuka bertujuan memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada anak-anak lulusan SD/MI atau sederajat yang tidak dapat mengikuti pendidikan SMP Reguler karena berbagai hambatan yang dihadapinya.
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan, SMP Terbuka merupakan alternatif layanan pendididikan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak bisa mengikuti sekolah regular karena alasan tertentu, namun ingin memiliki ijazah pendidikan formal. Karena itu Kemendikbud memfasilitasi anak-anak dengan kondisi tersebut melalui SMP Terbuka, di mana siswanya terdaftar di SMP Induk, namun kegiatan belajar mengajarnya berlangsung di tempat kegiatan belajar (TKB), sama dengan Program Paket A, B, atau C.
“Kegiatannya sangat rutin dan terjadwal, tapi tidak seketat pendidikan formal,” kata Hamid saat pembukaan Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) 2016 SMP Terbuka dan SD-SMP Satu Atap, di Plasa Insan Berprestasi, Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/8/2016).
Wilayah Indonesia sangat luas, dan sebagian wilayahnya memiliki kondisi geografis yang sulit. Kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang masih lemah dan berbagai faktor, berakibat pada keterbatasan bagi anak-anak usia 13-18 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan. Melalui SMP terbuka ini, mereka dapat memperoleh layanan pendidikan yang diperlukan. Lulusan SMP Terbuka sama dengan lulusan SMP reguler, dengan menerima Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SMP. Hal ini berarti bahwa lulusan SMP Terbuka mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan lulusan SMP reguler.
Hamid mengatakan, SMP Terbuka sudah diselenggarakan sejak tahun 1979. Kemudian untuk membantu fungsi SMP Terbuka dalam memfasilitasi pendidikan untuk anak-anak dengan kondisi tertentu, Kemendikbud juga menyediakan layanan pendidikan berupa SD-SMP Satu Atap (Satap). SD-SMP Satap ini, tutur Hamid, merupakan SMP regular yang diintegrasikan dengan SD, terutama di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) yang jumlah siswanya sangat sedikit. Saat ini sudah ada 5.000 unit SD-SMP Satap yang tersebar di berbagai daerah 3T.
“Ini yang nanti akan kami bicarakan secara khusus dan dibina secara intensif ke depan untuk daerah yang sangat jauh dan terpencil, sesuai program Nawacita,” tutur Hamid.
Sumber : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/08/smp-terbuka-solusi-pendidikan-alternatif-dengan-ijazah-formal
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan, SMP Terbuka merupakan alternatif layanan pendididikan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak bisa mengikuti sekolah regular karena alasan tertentu, namun ingin memiliki ijazah pendidikan formal. Karena itu Kemendikbud memfasilitasi anak-anak dengan kondisi tersebut melalui SMP Terbuka, di mana siswanya terdaftar di SMP Induk, namun kegiatan belajar mengajarnya berlangsung di tempat kegiatan belajar (TKB), sama dengan Program Paket A, B, atau C.
“Kegiatannya sangat rutin dan terjadwal, tapi tidak seketat pendidikan formal,” kata Hamid saat pembukaan Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) 2016 SMP Terbuka dan SD-SMP Satu Atap, di Plasa Insan Berprestasi, Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/8/2016).
Wilayah Indonesia sangat luas, dan sebagian wilayahnya memiliki kondisi geografis yang sulit. Kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang masih lemah dan berbagai faktor, berakibat pada keterbatasan bagi anak-anak usia 13-18 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan. Melalui SMP terbuka ini, mereka dapat memperoleh layanan pendidikan yang diperlukan. Lulusan SMP Terbuka sama dengan lulusan SMP reguler, dengan menerima Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SMP. Hal ini berarti bahwa lulusan SMP Terbuka mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan lulusan SMP reguler.
Hamid mengatakan, SMP Terbuka sudah diselenggarakan sejak tahun 1979. Kemudian untuk membantu fungsi SMP Terbuka dalam memfasilitasi pendidikan untuk anak-anak dengan kondisi tertentu, Kemendikbud juga menyediakan layanan pendidikan berupa SD-SMP Satu Atap (Satap). SD-SMP Satap ini, tutur Hamid, merupakan SMP regular yang diintegrasikan dengan SD, terutama di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) yang jumlah siswanya sangat sedikit. Saat ini sudah ada 5.000 unit SD-SMP Satap yang tersebar di berbagai daerah 3T.
“Ini yang nanti akan kami bicarakan secara khusus dan dibina secara intensif ke depan untuk daerah yang sangat jauh dan terpencil, sesuai program Nawacita,” tutur Hamid.
Sumber : https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/08/smp-terbuka-solusi-pendidikan-alternatif-dengan-ijazah-formal
Bagaimana Sosok Seorang Guru di Jepang
Apakah sesungguhnya yang membedakan kita dengan guru-guru Jepang ya? Bukankah mereka juga manusia?sama seperti kita ini.Bukankah mereka juga mendidik anak-anak yang secara umum sama dengan anak didik kita?Bukankah mereka juga memiliki waktu 24 jam sebagaimana kita miliki?.
Pengalaman mengunjungi dan mengajar beberapa sekolah di Jepang sedikit banyak membuka mata tentang keunggulan mereka. Hal ini tidak menjadikan saya kemudian pesimis dan memandang rendah bangsa sendiri. Justru dari sinilah saya semakin mencintai Indonesia. Termasuk pendidikan yang ada di dalamnya. Dengan Belajar dari sekolah-sekolah jepang yang efektif dan tidak banyak buang-buang energi untuk kesia-siaan dalam pendidikannya. Menjadikan saya semakin yakin bahwa potensi kita jauh lebih baik dari mereka. Pengalaman yang saya jalani juga memberikan pelajaran penting.
Disiplin, kesungguhan,tepat waktu,jujur dan seabrek prilaku agung lainnya bisa dengan mudah kita semaikan ke anak didik kalau kita sendiri rela jadi contohnya. Saya juga belajar bagaimana guru-guru Jepang menyiapkan materi yang akan digunakan esok harinya. Mereka rela pulang larut malam hanya ingin membuat anak didiknya tidak kecewa. Di dalam kelas, guru-guru sudah tahu dari mana memulai dan kapan mengakhirinya. Saya melihat betapa enaknya mereka membelajarkan anak didiknya. Tidak sekalipun saya temui guru yang dengan seenaknya keluar ruangan dengan alasan yang tidak bisa dibenarkan.
Misalnya ke ruang guru untuk merokok atau melanjutkan ngobrol yang tertunda karena bel masuk. Mengapa mereka enjoy dan rela tinggal lama-lama di kelas? jawabannya hanya karena mereka telah siap dan tahu kemana kelas akan dibawahnya. Mereka juga memiliki gambaran yang jelas tentang potensi dan kecenderungan-kecenderungan setiap muridnya dalam RPP nya. Rangkuman itu menunjukkan betapa perduli dan pahamnya mereka terhadap anak didik yang dihadapinya. Hal ini memudahkannya menyiapkan segala resiko yang dihadapi di kelas.
RPP yang saya miliki,kadang hanya salinan dari internet semata. Kenyataan ini memberi tamparan keras pada saya,yang hanya menyiapkan lesson plan saat pengawas datang atau sedang giliran supervisi kelas. Memang, sesuatu yang direncanakan kadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sesuatu yang tidak direncanakan justru sebaliknya. Namun, tidak kah lebih bagus jika kesiapan dijadikan pertimbangan penting sebelum membelajarkan anak didik. Sehingga kita tahu bagaimana memulainya dan bagaimana mengantisipasi setiap resiko yang akan terjadi. Saya juga tidak sering melihat guru-guru Jepang memiliki kemampuan luar biasa, pembelajaran yang benar-benar excelence dan atau keunggulan-keunggulan lainnya.
Dalam beberapa kasus, justru banyak guru di Indonesia yang jauh lebih kreatif dan smart dari pada mereka. Justru banyak pembelajaran yang dilakukan guru di Indonesia lebih modern dan kaya pendekatan daripada kelas-kelas yang pernah saya kunjungi di Jepang.Tapi mengapakah mereka lebih berhasil? motivasi belajar mungkin menjadi jawabannya. Guru-guru Jepang juga tidak terlalu banyak mengggunakan teknologi,meski mereka menguasai dan memilikinya. Mereka jauh lebih suka komunikasi langsung, interaksi langsung tanpa bantuan komputer sekalipun. Disisi lain, Guru-guru Indonesia jauh lebih jago dibanding mereka.
Terutama dalam penguasaan teknologi dalam pembelajaran. Guru di Jepang,sebagaimana yang pernah saya temui, bukanlah sosok yang sakral. Apalagi berlagak seperti raja:can not do wrong. Mereka lebih familiar, bersahabat dan ramah-ramah. Meski tradisi samurai dan Jepang memuliakan guru,namun tidak menjadikan mereka sosok yang gila hormat. Terlebih lagi keinginan untuk dihormati oleh murid-muridnya. Ketekunan dan kesungguhan seakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari mereka. Saat berada di ruang guru,saya melihat mereka sangat tekun membolak-balik buku pekerjaan siswa, atau membaca aneka buku yang ada di rak mejanya.Begitu berharga waktu bagi mereka, dan digunakan untuk kemajuan dan perbaikan kualitas pembelajarannya. Mereka memasuki kelas tepat waktu.
Tidak terlambat dan keluar sesuai jamnya. Mereka mematuhi setiap aturan yang dibuat bersama hanya untuk menunjukkan pada murid tentang efek-efek ketauladanan. Saya akhirnya menyadari jika To have is not equal to do. Jika memiliki itu tidak secara otomatis melakukan. Kita memiliki banyak potensi yang terpendam,namun belum sempat kita gunakan.Kita memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah kita oleh menjadi potensi yang luar biasa. Karena kita lebih senang dan nyaman dengan kondisi yang kita nikmati dan jalani saat ini.Untuk berbeda dan berkualitas memang mensyaratkan kita untuk terus bergerak dan bergerak.
Jangan sampai tertahan di satu kondisi karena ianya akan mentumpulkan otak. Menutup peluang dan potensi diri untuk terus bergerak menghasilkan ide-ide cemerlang. Jangan puas menjadi camper,mari bersama-sama menuju puncak agar potensi itu tidak diambil orang lain. I am proud to be educator (tulisan ini adalah kritik terhadap diri saya sendiri).
Sumber : https://www.kompasiana.com/senidanpemikiran.blogspot.com/551ac79fa333114c21b65a94/sosok-guru-di-jepang-yang-saya-tahu
Pengalaman mengunjungi dan mengajar beberapa sekolah di Jepang sedikit banyak membuka mata tentang keunggulan mereka. Hal ini tidak menjadikan saya kemudian pesimis dan memandang rendah bangsa sendiri. Justru dari sinilah saya semakin mencintai Indonesia. Termasuk pendidikan yang ada di dalamnya. Dengan Belajar dari sekolah-sekolah jepang yang efektif dan tidak banyak buang-buang energi untuk kesia-siaan dalam pendidikannya. Menjadikan saya semakin yakin bahwa potensi kita jauh lebih baik dari mereka. Pengalaman yang saya jalani juga memberikan pelajaran penting.
Disiplin, kesungguhan,tepat waktu,jujur dan seabrek prilaku agung lainnya bisa dengan mudah kita semaikan ke anak didik kalau kita sendiri rela jadi contohnya. Saya juga belajar bagaimana guru-guru Jepang menyiapkan materi yang akan digunakan esok harinya. Mereka rela pulang larut malam hanya ingin membuat anak didiknya tidak kecewa. Di dalam kelas, guru-guru sudah tahu dari mana memulai dan kapan mengakhirinya. Saya melihat betapa enaknya mereka membelajarkan anak didiknya. Tidak sekalipun saya temui guru yang dengan seenaknya keluar ruangan dengan alasan yang tidak bisa dibenarkan.
Misalnya ke ruang guru untuk merokok atau melanjutkan ngobrol yang tertunda karena bel masuk. Mengapa mereka enjoy dan rela tinggal lama-lama di kelas? jawabannya hanya karena mereka telah siap dan tahu kemana kelas akan dibawahnya. Mereka juga memiliki gambaran yang jelas tentang potensi dan kecenderungan-kecenderungan setiap muridnya dalam RPP nya. Rangkuman itu menunjukkan betapa perduli dan pahamnya mereka terhadap anak didik yang dihadapinya. Hal ini memudahkannya menyiapkan segala resiko yang dihadapi di kelas.
RPP yang saya miliki,kadang hanya salinan dari internet semata. Kenyataan ini memberi tamparan keras pada saya,yang hanya menyiapkan lesson plan saat pengawas datang atau sedang giliran supervisi kelas. Memang, sesuatu yang direncanakan kadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sesuatu yang tidak direncanakan justru sebaliknya. Namun, tidak kah lebih bagus jika kesiapan dijadikan pertimbangan penting sebelum membelajarkan anak didik. Sehingga kita tahu bagaimana memulainya dan bagaimana mengantisipasi setiap resiko yang akan terjadi. Saya juga tidak sering melihat guru-guru Jepang memiliki kemampuan luar biasa, pembelajaran yang benar-benar excelence dan atau keunggulan-keunggulan lainnya.
Dalam beberapa kasus, justru banyak guru di Indonesia yang jauh lebih kreatif dan smart dari pada mereka. Justru banyak pembelajaran yang dilakukan guru di Indonesia lebih modern dan kaya pendekatan daripada kelas-kelas yang pernah saya kunjungi di Jepang.Tapi mengapakah mereka lebih berhasil? motivasi belajar mungkin menjadi jawabannya. Guru-guru Jepang juga tidak terlalu banyak mengggunakan teknologi,meski mereka menguasai dan memilikinya. Mereka jauh lebih suka komunikasi langsung, interaksi langsung tanpa bantuan komputer sekalipun. Disisi lain, Guru-guru Indonesia jauh lebih jago dibanding mereka.
Terutama dalam penguasaan teknologi dalam pembelajaran. Guru di Jepang,sebagaimana yang pernah saya temui, bukanlah sosok yang sakral. Apalagi berlagak seperti raja:can not do wrong. Mereka lebih familiar, bersahabat dan ramah-ramah. Meski tradisi samurai dan Jepang memuliakan guru,namun tidak menjadikan mereka sosok yang gila hormat. Terlebih lagi keinginan untuk dihormati oleh murid-muridnya. Ketekunan dan kesungguhan seakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari mereka. Saat berada di ruang guru,saya melihat mereka sangat tekun membolak-balik buku pekerjaan siswa, atau membaca aneka buku yang ada di rak mejanya.Begitu berharga waktu bagi mereka, dan digunakan untuk kemajuan dan perbaikan kualitas pembelajarannya. Mereka memasuki kelas tepat waktu.
Tidak terlambat dan keluar sesuai jamnya. Mereka mematuhi setiap aturan yang dibuat bersama hanya untuk menunjukkan pada murid tentang efek-efek ketauladanan. Saya akhirnya menyadari jika To have is not equal to do. Jika memiliki itu tidak secara otomatis melakukan. Kita memiliki banyak potensi yang terpendam,namun belum sempat kita gunakan.Kita memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah kita oleh menjadi potensi yang luar biasa. Karena kita lebih senang dan nyaman dengan kondisi yang kita nikmati dan jalani saat ini.Untuk berbeda dan berkualitas memang mensyaratkan kita untuk terus bergerak dan bergerak.
Jangan sampai tertahan di satu kondisi karena ianya akan mentumpulkan otak. Menutup peluang dan potensi diri untuk terus bergerak menghasilkan ide-ide cemerlang. Jangan puas menjadi camper,mari bersama-sama menuju puncak agar potensi itu tidak diambil orang lain. I am proud to be educator (tulisan ini adalah kritik terhadap diri saya sendiri).
Sumber : https://www.kompasiana.com/senidanpemikiran.blogspot.com/551ac79fa333114c21b65a94/sosok-guru-di-jepang-yang-saya-tahu
Kompetensi Guru, Digugu dan Ditiru
GURU dapat diartikan sebagai profesi yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspek, baik intelektual, emosional maupun spiritual.
Dalam bahasa teknis edukatif, guru terkait dengan kegiatan untuk mengembangkan peserta didik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru mengembangkan potensi posit¬if jasmani dan rohani peserta didik.
Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Guru dalam Bahasa Jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid.
Sebagai guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya. Akan tetapi banyak kita lihat guru yang yang tidak memiliki kepribadian yang baik, bahkan menjadi pendidik yang kasar dan keras dengan perilaku yang tidak layak dijadikan sebagai panutan.
Mungkin selama ini input yang diperoleh guru sebagi pekerjaan sampingan yang tugasnya hanya mengajar tanpa lagi mengesampingkan tugas-tugas lainnya. Padahal tidak harus demikian, sebagai suatu pekerjaan profesional, seorang guru perlu memiliki kompetensi agar bisa dihargai dengan baik.
Sebagai modal dasar dalam mengembangkan tugas dan kewajibannya. Antara lain:
1) Kompetensi personal artinya seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap yang patut untuk diteladani.
2) Kompetensi profesional, artinya seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
3) Kompetensi sosial, artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru maupun masyarakat luas.
Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, kompetensi guru terdiri atas kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan menurut Cooper, menyatakan bahwa kompetensi guru dibagi empat yaitu:
1) Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.
2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya.
3) Mempunyai sikap yang tetap tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya.
4) Mempunyai keterampilan teknis mengajar.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat yang optimal. Profesional guru dibangun dengan melalui berbagai penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi seorang pendidik.
Pada hakikatnya guru dan peserta didik itu satu. Mereka satu dalam jiwa meski terpisah dalam raga. Raga mereka boleh terpisah tetapi jiwa mereka tetap satu yang kokoh bersatu. Posisi kadang berbeda karena bisa bergantian, mereka seiring dan setujuan untuk keberhasilan proses pembelajaran.
Kesatuan jiwa guru dengan peserta didik tidak dapat dipisahkan oleh dimensi ruang, jarak, dan waktu. Tidak pula dapat dicerai-beraikan oleh daratan, lautan, dan udara. Guru tetap menjadi guru bagi peserta didiknya sepanjang waktu. Meskipun mereka telah lulus dalam menempuh pendidikan di institusi yang diasuh oleh gurunya tersebut.
Menjadi guru berprestasi sebuah penghargaan yang diberikan atas pekerjaan yang selama ini dikerjakan dan memberikan motivasi yang baik agar pada nantinya lebih bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.
Setiap orang pasti ingin menjadi guru, namun tidak semua orang yang bisa menjadi guru sebab suatu pekerjaan yang dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan penuh dedikasi yang tinggi. Seorang guru diberikan amanat untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi orang baik dan orang yang berguna.
Saya teringat sebuah quote salah seorang guru saya di SMK, saat itu beliau berkata: "Jika suatu saat nanti kalian sukses dan suatu hari bertemu salah seorang bapak/ibu guru kalian saat sekolah, jangan pernah menyebut mereka mantan guru. Karena guru tidak akan pernah menjadi seorang mantan. Guru akan tetap menjadi guru kalian sampai kapanpun nanti. Ibarat ilmu-ilmu yang telah mereka berikan pada kalian hingga kalian bisa menjadi orang sukses nanti, ilmu-ilmu itu akan tetap abadi pada kalian, tak akan pernah berubah sebutannya. Begitulah makna seorang guru dalam hidup kalian sebenarnya. Tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru."
Terima kasih Pak, terima kasih Bu. Tanpa kalian kami dulu hanyalah anak muda labil yang tersesat dalam persimpangan jalan hidup yang membingungkan. Kini kami telah menjadi "seseorang" yang akan meneruskan perjuangan diranah profesi masing-masing. Berjuang dengan segala ilmu yang telah kalian berikan hingga tak ada lagi tetes darah dan detak jantung di dalam tubuh kami. Berjuang untuk membuat kalian bangga telah menjadi guru kami.
Selamat hari guru untuk seluruh guru di Indonesia.
Fadly Alwahdy
Sarjana Akuntansi-Universitas Airlangga
Pendiri dan Direktur Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia (KJAI)
(ade)
Sumber : https://news.okezone.com/read/2013/11/27/373/903777/kompetensi-guru-digugu-dan-ditiru
Dalam bahasa teknis edukatif, guru terkait dengan kegiatan untuk mengembangkan peserta didik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru mengembangkan potensi posit¬if jasmani dan rohani peserta didik.
Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Guru dalam Bahasa Jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid.
Sebagai guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya. Akan tetapi banyak kita lihat guru yang yang tidak memiliki kepribadian yang baik, bahkan menjadi pendidik yang kasar dan keras dengan perilaku yang tidak layak dijadikan sebagai panutan.
Mungkin selama ini input yang diperoleh guru sebagi pekerjaan sampingan yang tugasnya hanya mengajar tanpa lagi mengesampingkan tugas-tugas lainnya. Padahal tidak harus demikian, sebagai suatu pekerjaan profesional, seorang guru perlu memiliki kompetensi agar bisa dihargai dengan baik.
Sebagai modal dasar dalam mengembangkan tugas dan kewajibannya. Antara lain:
1) Kompetensi personal artinya seorang guru harus memiliki kepribadian yang mantap yang patut untuk diteladani.
2) Kompetensi profesional, artinya seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, mendalam dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
3) Kompetensi sosial, artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik dengan siswa, sesama guru maupun masyarakat luas.
Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005, kompetensi guru terdiri atas kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan menurut Cooper, menyatakan bahwa kompetensi guru dibagi empat yaitu:
1) Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.
2) Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya.
3) Mempunyai sikap yang tetap tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya.
4) Mempunyai keterampilan teknis mengajar.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat yang optimal. Profesional guru dibangun dengan melalui berbagai penguasaan kompetensi-kompetensi yang secara nyata diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi seorang pendidik.
Pada hakikatnya guru dan peserta didik itu satu. Mereka satu dalam jiwa meski terpisah dalam raga. Raga mereka boleh terpisah tetapi jiwa mereka tetap satu yang kokoh bersatu. Posisi kadang berbeda karena bisa bergantian, mereka seiring dan setujuan untuk keberhasilan proses pembelajaran.
Kesatuan jiwa guru dengan peserta didik tidak dapat dipisahkan oleh dimensi ruang, jarak, dan waktu. Tidak pula dapat dicerai-beraikan oleh daratan, lautan, dan udara. Guru tetap menjadi guru bagi peserta didiknya sepanjang waktu. Meskipun mereka telah lulus dalam menempuh pendidikan di institusi yang diasuh oleh gurunya tersebut.
Menjadi guru berprestasi sebuah penghargaan yang diberikan atas pekerjaan yang selama ini dikerjakan dan memberikan motivasi yang baik agar pada nantinya lebih bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.
Setiap orang pasti ingin menjadi guru, namun tidak semua orang yang bisa menjadi guru sebab suatu pekerjaan yang dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan penuh dedikasi yang tinggi. Seorang guru diberikan amanat untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi orang baik dan orang yang berguna.
Saya teringat sebuah quote salah seorang guru saya di SMK, saat itu beliau berkata: "Jika suatu saat nanti kalian sukses dan suatu hari bertemu salah seorang bapak/ibu guru kalian saat sekolah, jangan pernah menyebut mereka mantan guru. Karena guru tidak akan pernah menjadi seorang mantan. Guru akan tetap menjadi guru kalian sampai kapanpun nanti. Ibarat ilmu-ilmu yang telah mereka berikan pada kalian hingga kalian bisa menjadi orang sukses nanti, ilmu-ilmu itu akan tetap abadi pada kalian, tak akan pernah berubah sebutannya. Begitulah makna seorang guru dalam hidup kalian sebenarnya. Tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru."
Terima kasih Pak, terima kasih Bu. Tanpa kalian kami dulu hanyalah anak muda labil yang tersesat dalam persimpangan jalan hidup yang membingungkan. Kini kami telah menjadi "seseorang" yang akan meneruskan perjuangan diranah profesi masing-masing. Berjuang dengan segala ilmu yang telah kalian berikan hingga tak ada lagi tetes darah dan detak jantung di dalam tubuh kami. Berjuang untuk membuat kalian bangga telah menjadi guru kami.
Selamat hari guru untuk seluruh guru di Indonesia.
Fadly Alwahdy
Sarjana Akuntansi-Universitas Airlangga
Pendiri dan Direktur Komunitas @JagoAkuntansi Indonesia (KJAI)
(ade)
Sumber : https://news.okezone.com/read/2013/11/27/373/903777/kompetensi-guru-digugu-dan-ditiru
Potret Pendidikan Indonesia di Tengah Perkembangan Teknologi
Berdasarkan laporan PISA (Programme for International Student Assessment) peringkat pendidikan Indonesia di dunia bertengger di urutan 62 dunia di bidang sains, 63 dunia di bidang matematika, dan 64 dunia di membaca. Masih di bawah Singapura, Vietnam, dan Thailand. PISA sendiri merupakan survei yang menguji kemampuan siswa berusia 15 tahun untuk tiga bidang, yakni membaca, matematika, dan sains. Survei ini diinisiasi Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD).
Dalam sambutannya di peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dirilis di situs resmi Kemendikbud, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendi, mengklaim mutu pelayanan pendidikan di Indonesia sudah semakin baik dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam sambutannya ia menyoroti pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan pendidikan.
"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi perhatian khusus untuk pendidikan di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Bahkan, Kemendikbud memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak Indonesia yang berada di luar batas negara,seperti anak-aak keturunan Indonesia yang ada di Sabah dan Serawak, Negara bagian Malaysia," ujarnya.
Pemerataan infrastruktur dan SDM
Senada dengan Muhadjir, Rosdewi Malau, salah satu guru di SMPN 20 Jakarta, juga merasakan hal yang sama. Ia berpendapat untuk ketersediaan infrastruktur dan fasilitas belajar mengajar di kota-kota besar sudah memadai. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan infrastruktur dan ketersedian SDM di daerah-daerah terpecil demi meratanya mutu pendidikan di Indonesia.
"Kalau di kota sendiri sih sudah bagus,katakanlah daerah-daerah yang sudah terjamah teknologi dan fasilitas yang ada saya rasa sudah bagus. Ya itu dia SDM-nya juga harus diperbaiki, terutama di daerah dengan cara ya itu tadi, gajinya mungkin, fasilitasnya, semua aspek diperhatikan harus," ujar Rosdewi saat diwawancarai DW Indonesia.
Dengan tuntutan perkembangan zaman yang cepat, guru yang sudah mengajar dari tahun 1984 ini, sadar betul para pendidik harus bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Apalagi dari sisi teknologi, jika dibandingkan dulu dimana guru harus mengajar dengan metode konservatif, sebut saja papan tulis, kapur, buku-buku pelajaran yang tebal, namun kini dengan kehadiran teknologi seperti komputer, proyektor, dan internet dirasanya sangat efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun Rosdewi menekankan faktor pengawasan orang tua di rumah juga menjadi hal mutlak, apalagi di usia-usia tersebut siswa sangat rentan terhadap pengaruh luar. Sehingga pengaruh teknologi ataupun internet tidak memberikan dampak yang buruk terhadap perkembangan belajar siswa.
"Kita sering bicara dengan orang tua (siswa), kita tidak mungkin menghambat teknologi itu. Tapi bagaimana cara pengawasannya, jadi mestinya orang tua dari rumah harus tahu apa yang dibaca anaknya, apa yang dilihat, karena kalau kita mau menutup teknologi ini juga malah menghambat, anak-anak ini kan akan berkembang, ga kita saja mereka kan perlu juga, perlu tahu. Cuma ya menurut saya pengawasan dari rumah harus lebih ketat," jelasnya.
Seperti diketahui, demi menyongsong Revolusi Industri 4.0 pemerintah mulai menggeser fokusnya dari pembangunan infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Muhadjir pun berpendapat perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan karakter siswa. "Peserta didik harus memiliki karakter dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Dituntut berpikir komputasi
Kurie Suditomo, pendiri codingcamp.id sebuah perusahaan yang mengajar pelatihan digital bagi anak usia 9 sampai 17 tahun, menilai di tengah majunya teknologi, Indonesia masih sangat kekurangan sumber daya manusia di bidang sains teknologi maupun engineering art. Maka dari itu codingcamp.id hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut. Menurut Kurie, sangat penting bagi anak-anak Indonesia unutk memilah informasi berbasis digital yang datang,
"Itu sangat berhubungan dengan kemampuan logika seseorang untuk memahami sebuah masalah, memecahkan masalah dan lain-lain. Nah sebenarnya (berlatih) coding bisa jadi jalan keluarnya, kenapa? Karena pelajaran ini sangat nyambung dengan generasi sekarang, bebasis visual dan anak-anak suka karena lagi in banget kan main games, anak-anak kita kan sudah digital native," jelas Kurie saat diwawancarai DW Indonesia.
Pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini, ia berharap dapat memberikan pelayanan pendidikan bagi mereka yang masih tertinggal. Menurut Kurie materi konten pembelajaran secara digital sangat banyak namun masih banyak yang belum membiasakan itu, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Berlatih coding bisa menjadi alternative pendidikan di masa globalisasi ini.
"Imagine aja kalau anak-anak sekolah misalnya middle-upper mungkin sih gampang, dia sudah full keyboard dari kecil, tapi bagaimana anak-anak di kampung yang pakai smartphone sekali-sekali itu juga cuma bisa main, terus lihat laptop keyboard ga pernah, terus tiba-tiba pada saat mereka sudah kerja mereka diharapkan sudah mampu mengetik kan mustahil," tambah Kurie.
Menurutnya sistem pendidikan di Indonesia mempunyai beban yang cukup besar, maka itu harus diimbangi dengan penyaluran minat peserta didik agar mereka tetap senang dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada tahun 2019 sendiri, pemerintah telah mencanangkan anggaran pendidikan sebesar 492,5 Triliun Rupiah, dengan rincian 163,1 T untuk pusat, 308, 4 T untuk daerah, dan 21 T untuk pembiayaan. Angka ini tumbuh sebesar 11,4 persen dibanding anggaran tahun 2018. Maka dari itu, pemerintah diharap bijak dalam menggunakan anggaran tersebut, selain untuk keperluan bersifat administrative melainkan untuk kualitas materi pembelajaran.
Sama seperti Rosdewi, Kurie juga berharap upaya pemerintah untuk meratakan mutu pendidikan di Indonesia baik dari infrastruktur dan SDM dapat terwujud demi menjawab tantangan global di masa yang akan datang, agar tujuan negeri ini seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai. (rap/vlz)
Sumber :https://news.detik.com/dw/d-4533564/potret-pendidikan-indonesia-di-tengah-perkembangan-teknologi
Dalam sambutannya di peringatan Hari Pendidikan Nasional yang dirilis di situs resmi Kemendikbud, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendi, mengklaim mutu pelayanan pendidikan di Indonesia sudah semakin baik dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam sambutannya ia menyoroti pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pelayanan pendidikan.
"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi perhatian khusus untuk pendidikan di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal. Bahkan, Kemendikbud memberi perhatian khusus pada pendidikan anak-anak Indonesia yang berada di luar batas negara,seperti anak-aak keturunan Indonesia yang ada di Sabah dan Serawak, Negara bagian Malaysia," ujarnya.
Pemerataan infrastruktur dan SDM
Senada dengan Muhadjir, Rosdewi Malau, salah satu guru di SMPN 20 Jakarta, juga merasakan hal yang sama. Ia berpendapat untuk ketersediaan infrastruktur dan fasilitas belajar mengajar di kota-kota besar sudah memadai. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan infrastruktur dan ketersedian SDM di daerah-daerah terpecil demi meratanya mutu pendidikan di Indonesia.
"Kalau di kota sendiri sih sudah bagus,katakanlah daerah-daerah yang sudah terjamah teknologi dan fasilitas yang ada saya rasa sudah bagus. Ya itu dia SDM-nya juga harus diperbaiki, terutama di daerah dengan cara ya itu tadi, gajinya mungkin, fasilitasnya, semua aspek diperhatikan harus," ujar Rosdewi saat diwawancarai DW Indonesia.
Dengan tuntutan perkembangan zaman yang cepat, guru yang sudah mengajar dari tahun 1984 ini, sadar betul para pendidik harus bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Apalagi dari sisi teknologi, jika dibandingkan dulu dimana guru harus mengajar dengan metode konservatif, sebut saja papan tulis, kapur, buku-buku pelajaran yang tebal, namun kini dengan kehadiran teknologi seperti komputer, proyektor, dan internet dirasanya sangat efektif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun Rosdewi menekankan faktor pengawasan orang tua di rumah juga menjadi hal mutlak, apalagi di usia-usia tersebut siswa sangat rentan terhadap pengaruh luar. Sehingga pengaruh teknologi ataupun internet tidak memberikan dampak yang buruk terhadap perkembangan belajar siswa.
"Kita sering bicara dengan orang tua (siswa), kita tidak mungkin menghambat teknologi itu. Tapi bagaimana cara pengawasannya, jadi mestinya orang tua dari rumah harus tahu apa yang dibaca anaknya, apa yang dilihat, karena kalau kita mau menutup teknologi ini juga malah menghambat, anak-anak ini kan akan berkembang, ga kita saja mereka kan perlu juga, perlu tahu. Cuma ya menurut saya pengawasan dari rumah harus lebih ketat," jelasnya.
Seperti diketahui, demi menyongsong Revolusi Industri 4.0 pemerintah mulai menggeser fokusnya dari pembangunan infrastruktur ke pembangunan sumber daya manusia. Muhadjir pun berpendapat perkembangan teknologi yang semakin canggih dapat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan karakter siswa. "Peserta didik harus memiliki karakter dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat," ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Dituntut berpikir komputasi
Kurie Suditomo, pendiri codingcamp.id sebuah perusahaan yang mengajar pelatihan digital bagi anak usia 9 sampai 17 tahun, menilai di tengah majunya teknologi, Indonesia masih sangat kekurangan sumber daya manusia di bidang sains teknologi maupun engineering art. Maka dari itu codingcamp.id hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut. Menurut Kurie, sangat penting bagi anak-anak Indonesia unutk memilah informasi berbasis digital yang datang,
"Itu sangat berhubungan dengan kemampuan logika seseorang untuk memahami sebuah masalah, memecahkan masalah dan lain-lain. Nah sebenarnya (berlatih) coding bisa jadi jalan keluarnya, kenapa? Karena pelajaran ini sangat nyambung dengan generasi sekarang, bebasis visual dan anak-anak suka karena lagi in banget kan main games, anak-anak kita kan sudah digital native," jelas Kurie saat diwawancarai DW Indonesia.
Pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini, ia berharap dapat memberikan pelayanan pendidikan bagi mereka yang masih tertinggal. Menurut Kurie materi konten pembelajaran secara digital sangat banyak namun masih banyak yang belum membiasakan itu, tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Berlatih coding bisa menjadi alternative pendidikan di masa globalisasi ini.
"Imagine aja kalau anak-anak sekolah misalnya middle-upper mungkin sih gampang, dia sudah full keyboard dari kecil, tapi bagaimana anak-anak di kampung yang pakai smartphone sekali-sekali itu juga cuma bisa main, terus lihat laptop keyboard ga pernah, terus tiba-tiba pada saat mereka sudah kerja mereka diharapkan sudah mampu mengetik kan mustahil," tambah Kurie.
Menurutnya sistem pendidikan di Indonesia mempunyai beban yang cukup besar, maka itu harus diimbangi dengan penyaluran minat peserta didik agar mereka tetap senang dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada tahun 2019 sendiri, pemerintah telah mencanangkan anggaran pendidikan sebesar 492,5 Triliun Rupiah, dengan rincian 163,1 T untuk pusat, 308, 4 T untuk daerah, dan 21 T untuk pembiayaan. Angka ini tumbuh sebesar 11,4 persen dibanding anggaran tahun 2018. Maka dari itu, pemerintah diharap bijak dalam menggunakan anggaran tersebut, selain untuk keperluan bersifat administrative melainkan untuk kualitas materi pembelajaran.
Sama seperti Rosdewi, Kurie juga berharap upaya pemerintah untuk meratakan mutu pendidikan di Indonesia baik dari infrastruktur dan SDM dapat terwujud demi menjawab tantangan global di masa yang akan datang, agar tujuan negeri ini seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai. (rap/vlz)
Sumber :https://news.detik.com/dw/d-4533564/potret-pendidikan-indonesia-di-tengah-perkembangan-teknologi


























